Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa

Islam, Radikalisme, dan Masa Depan Bangsa

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Syahganda Nainggolan1Islam, jihad, kekerasan, ekstremisme, radikalisme, militanisme  dan bahkan terorisme telah menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan elit dan juga sebagian masyarakat umum belakangan ini, khususnya paska “bom Surabaya” beberapa  waktu lalu.

Islam sebagai sebuah ajaran bergeser dari keberadaannya tentang peradaban manusia menjadi seolah-olah ajaran sesat dan menakutkan. Jihad sebagai ayat dalam kitab suci Al-Quran untuk menegakkan Islam sebagai ajaran kasih sayang dan perdamaian, telah menjadi musuh.

Sekjen Syuriah NU, Yahya Staquf, yang diundang Wakil Presiden Amerika, Mike Pence di Gedung Putih, didampingi Johnnie Moore, penasihat Trump dari Kristen Evangelical, menjelaskan tentang komitmen NU memerangi Jihad dan ekstremisme. Hal ini dirilis Wakil Presiden Amerika di tweeter nya. Namun ada tweeter lain yang menimpali: “@POTUS Trump’s admin stands with NU in its fight for religious freedom & against jihad”.

Pence atau administrasi rezim Trump menyatakan memerangi Jihad. Seolah Jihad itu adalah sebuah kejahatan. Dan jika NU tidak membantah itu sebuah kesimpulan atau hasil pikiran bersama dengan Mike Pence, maka NU juga bisa dipersepsikan bersikap memerangi Jihad. Apalagi Staquf baru dilantik menjadi penasihat Jokowi.
BACA SELENGKAPNYA “Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa”