Anies Baswedan Melawan

Anies Ditekan, Anies Melawan

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik (Direktur Graha Insan Cendikia dan Ketua FASS Jabodetabek)

Anies BaswedanDi manapun negara, pasti berat bila berseberangan dengan penguasa dan taipan. Berani sedikit, posisi bisa dilengserkan. Apalagi kalau salah kelola anggaran, atau main perempuan. Tak jarang ada yang dibiarkan jadi “sandra” atau malah “tahanan”. Kadang-kadang tanpa proses persidangan. Alasannya: makar dan negara terancam. “Klise”. Apalagi kalau bawa-bawa istilah anti-pancasila dan anti-kebhinekaan, makin sempurnalah sebuah tuduhan.

Ketua-ketua partai dan para pimpinan daerah seringkali tak luput dari bidikan. Sikap represif ini ada sejak zaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba), dan sampai sekarang secara turun-temurun diwariskan. Hanya beda kadar dan ukuran. Ada yang sembunyi-sembunyi dengan beragam kemasan, ada pula yang terang-terangan. Malah ada yang cenderung dipertontonkan.

Apakah tindakan represif ini juga dirasakan Gubernur dan Wagub DKI, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Shalahudin Uno?

Kabar yang banyak beredar, Anies juga sering jadi target dan pernah ditekan. Anies takut? Semula memang banyak pihak meragukan. Anies dianggap tak punya ketegasan, apalagi berada di bawah ancaman. Lelaki yang dibesarkan di Jogja dengan tata krama dan sopan santun ala Jawa ini tak punya wajah garang. Dibanding gubernur sebelumnya, tentu kalah seram. Vokal suaranya tak lantang. Lebih nampak sebagai pemikir yang mengumbar senyuman.
BACA SELENGKAPNYA “Anies Baswedan Melawan”

Politik Ideologis vs Politik Sembako

Oleh: Nasihin Masha

Nasihin Masha cropPada 1926, Bung Karno menulis artikel berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tiga ideologi ini memang kemudian, bagi Sukarno, menjadi sesuatu yang baku dalam memotret realitas sosial-politik di Indonesia.

Hal ini dibuktikan ketika satu dekade menjelang kekuasaannya runtuh, ia mengkristalkannya menjadi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Islamisme menjadi diperluas ke dalam agama, dan Marxisme dipersempit menjadi komunisme.

Itulah tiga realitas sosial politik yang hidup saat itu. Permenungannya tentang tiga kekuatan ideologis tersebut berangkat sejak ia menjadi pemondok termuda di rumah Peneleh, kos-kosan milik ketua Syarekat Islam, HOS Tjokroaminoto.
BACA SELENGKAPNYA “Politik Ideologis vs Politik Sembako”