Prabowo vs Moerdani 02

Konflik Jenderal Benny Moerdani versus Mayor Prabowo Subianto (02)

SIDANG UMUM MPR 1988

Prabowo vs Moerdani

Menjelang Sidang Umum MPR Maret 1988, beredar kabar bahwa Jenderal Benny Moerdani sangat berkeinginan untuk mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden. Untuk memuluskan maksud ini, Jenderal Benny Moerdani, sebagai Panglima ABRI, menyusun berbagai rencana dan siasat. Salah satu strateginya adalah menjadikan Fraksi ABRI di MPR sebagai lokomotif pencalonan dirinya. Tapi, rencana Jenderal Benny Moerdani untuk menjadi wakil presiden ini tercium dan berhasil digagalkan oleh Soeharto berkat laporan Prabowo Subianto.

Pada 24 Februari 1988, sebelum sidang MPR digelar, Soeharto melakukan penggantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Try Sutrisno. Pergantian ini menyebabkan dukungan terhadap Jenderal Benny Moerdani menjadi berkurang dan akhirnya ia gagal menjadi wakil presiden. Jika tidak diganti, Jenderal Benny Moerdani sebagai Panglima ABRI dapat memaksa Letjen Bambang Triantoro, Ketua Fraksi ABRI di MPR, untuk mengajukan namanya sebagai calon wakil presiden. Cara fait accompli ini tentunya mendahului kehendak Suharto dan dapat membuat malu serta kesan tidak demokratis bila Suharto menolaknya dalam Sidang MPR. Semua rencana itu akhirnya tidak berhasil. Suharto memilih Sudharmono menjadi wakil presiden.
BACA SELENGKAPNYA “Prabowo vs Moerdani 02″

Prabowo vs Moerdani 01

Konflik Jenderal Benny Moerdani versus Mayor Prabowo Subianto (01)

Prabowo vs Moerdani

Presiden Soeharto mengangkat Jenderal Leonardus Benny Moerdani sebagai Panglima Angkatan Bersenjata merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada 1983, menggantikan Jenderal M. Yusuf yang dikenal sebagai perwira yang bersih dan baik terhadap para prajurit kecil. Dalam pelaksanaan tugasnya kemudian, Jenderal Benny Moerdani melakukan pembersihan terhadap para perwira tinggi yang bersimpati kepada Jenderal M. Yusuf dan kelompok Islam. Kondisi ini terungkap dari perjalanan karir Prabowo Subianto, lulusan Akademi Militer (Akmil) 1974, yang mengalami kehidupan militer secara dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, terutama pada kurun 1982-1985, saat bertugas sebagai staf khusus Jenderal Benny Moerdani.

Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo Subianto mendapat penjelasan langsung dari Moerdani tentang rencana Moerdani menghancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis. Prabowo Subianto memperoleh informasi ini karena Jenderal Benny Moerdani melihat latar belakang bapaknya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, seorang sosialis, dan ibunya seorang penganut Kristen dari Manado. Namun, Prabowo Subianto merasa tidak cocok dengan rencana tersebut dan melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, Presiden Soeharto, termasuk rencana Jenderal Benny Moerdani untuk menguasai Indonesia atau menjadi Presiden RI.
BACA SELENGKAPNYA “Prabowo vs Moerdani 01″

Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa

Islam, Radikalisme, dan Masa Depan Bangsa

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Syahganda Nainggolan1Islam, jihad, kekerasan, ekstremisme, radikalisme, militanisme  dan bahkan terorisme telah menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan elit dan juga sebagian masyarakat umum belakangan ini, khususnya paska “bom Surabaya” beberapa  waktu lalu.

Islam sebagai sebuah ajaran bergeser dari keberadaannya tentang peradaban manusia menjadi seolah-olah ajaran sesat dan menakutkan. Jihad sebagai ayat dalam kitab suci Al-Quran untuk menegakkan Islam sebagai ajaran kasih sayang dan perdamaian, telah menjadi musuh.

Sekjen Syuriah NU, Yahya Staquf, yang diundang Wakil Presiden Amerika, Mike Pence di Gedung Putih, didampingi Johnnie Moore, penasihat Trump dari Kristen Evangelical, menjelaskan tentang komitmen NU memerangi Jihad dan ekstremisme. Hal ini dirilis Wakil Presiden Amerika di tweeter nya. Namun ada tweeter lain yang menimpali: “@POTUS Trump’s admin stands with NU in its fight for religious freedom & against jihad”.

Pence atau administrasi rezim Trump menyatakan memerangi Jihad. Seolah Jihad itu adalah sebuah kejahatan. Dan jika NU tidak membantah itu sebuah kesimpulan atau hasil pikiran bersama dengan Mike Pence, maka NU juga bisa dipersepsikan bersikap memerangi Jihad. Apalagi Staquf baru dilantik menjadi penasihat Jokowi.
BACA SELENGKAPNYA “Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa”

Kebijakan Orde Baru terhadap Masyumi dan Islam (3-habis)

Oleh: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

Partai Masyumi
Partai Masyumi

Tak ada yang menyangsikan bahwa sikap anti Islam ideologis dan politis di bawah Orde Baru ini tanpa arahan, atau paling tidak di bawah pengetahuan Presiden Soeharto. Soeharto sendiri berasal dari kalangan Jawa Abangan, walau di masa kecil pernah belajar di sekolah Muhammadiyah dan aktif belajar mengaji serta tidur di mesjid di kampungnya. Namun pemahaman Soeharto terhadap agama tergolong minim, begitu juga ketaatannya dalam menjalankan ibadah agama. Sampai akhir dekade tahun 1980-an, rakyat tak pernah tahu apakah beliau mengerjakan solat Jum’at apa tidak. Tak pernah beliau nampak pergi menunaian solat Jum’at di Masjid Baiturrahim di Istana Negara atau mesjid lainnya. Walau begitu, Soeharto selalu mengucapkan salam baik di awal maupun di akhir pidatonya, meskipun di dalam teks pidatonya, ucapan salam itu tidak ada. Soeharto dan Ibu Tien hanya nampak menghadiri acara Nuzul Qur’an di Istana negara, dan peringatan Isra Mi’raj dan Nuzul Qur’an di Mesjid Istiqlal. Dalam ucapan lisannya sehari-hari Soeharto lebih banyak mengutip mutiara-mutiara falsafah Jawa – terutama Ronggowarsito – daripada merujuk kepada khazanah ajaran Islam.

Kesadaran Soeharto terhadap Islam mulai tumbuh ketika usianya kian senja. Dalam Muktamar Muhammadiyah di Solo pada tahun 1985, tanpa diduga Soeharto mengatakan bahwa dia bersyukur pernah mengenyam pendidikan Muhammadiyah. Padahal kata-kata itu tidak ada dalam teks pidato resminya yang disiapkan Mensesneg Moerdiono. Warga Muhammadiyah seolah mendapat angin segar. Saya mendengar sejak itu ada pengajian agama Islam yang dilakukan diam-diam di rumah Soeharto. Pelan-pelan Soeharto mulai menampakkan sosok keislamannya. Dia mendukung upaya Munawir Sadjzali untuk menciptakan UU Peradilan Agama pada tahun 1989, dan kemudian mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Kompilasi Hukum Islam. Dua hal semacam ini hampir mustahil terjadi di awal maupun di pertengahan usia Orde Baru. Di masa itu, setiap pembicaraan mengenai hukum Islam dan lembaga-lembaganya, dengan mudah akan dituduh untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta.
BACA SELENGKAPNYA “Kebijakan Orde Baru terhadap Masyumi dan Islam (3-habis)”

Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1

PRABOWO DULU AKTIF MEMBANTU ABRI HIJAU (1)

Wawancara Tabloid SUARA MUSLIM dengan Brigjen (Purn) ADITYAWARMAN THAHA (mantan Staf Ali Panglima ABRI)

???????????????????????????????
Brigjen TNI Purn. ADITYAWARMAN THAHA

Lelaki kelahiran Sumatera Barat, 4 Maret 1945 ini senang berada di balik layar. Ia jarang muncul di publik. Padahal peran dia cukup besar dalam usaha dakwah Islam di kalangan militer. Bersama Kivlan Zen dkk sewakru pendidikan militer di Magelang dulu, tahun 1967-an, Adit aktif dalam menggerakkan taruna untuk mendalami Islam. “Kita kadang mengadakan pengajian di luar asrama dengan mengundang penceramah luar,” kata Adit dalam wawancaranya dengan Suara Islam.

Sebetulnya Adit sudah diminta wawancara Suara Islam dua tahun lalu, Adit tidak bersedia. Sekarang di Pilpres ini, Adit mau tampil untuk menyampaikan kenapa memilih PRABOWO untuk menjadi presiden.

Sebelum masuk taruna di Magelang, Adit sempat menghadap Buya Mohammad Natsir, tokoh Islam nasional yang sangat disegani saat itu. Ia diberi Pak Natsir selebnar surat untuk dibawa ke tokoh PP (Pelajar Islam Indonesia) dan Masyumi Magelang, Bapak Cholil Badawi. Di rumah Pak Cholil lah, Adit, Kivlan, Bambang Sukoco, Saiful Islam, Anwar Sudarminto dan lain-lain sering mengadakan diskusi-diskusi tentang masalah keislaman.

Adit, mantan Kepala Dinas Penerangan Umum Puspen ABRI (1995) ini memang hobi dengan kegiatan-kegiatan Islam. Ia berkisah tentang masa lalunya:
BACA SELENGKAPNYA “Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1″

Prabowo Sadarkan Pak Harto dari Tipu Daya Moerdani

“Moerdani Bikin ORBA Beringas, Prabowo Sadarkan Pak Harto”

Prabowo dulu dan kiniApa itu Orde Baru? Binatang apakah dia?

Orde Baru adalah nama atau sebutan untuk satu masa pemerintahan atau rezim presiden Suharto mulai 1966-1998. Era Orde Baru itu untuk membedakan dengan Orde Lama 1949 1965 dan jaman Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Orde Baru dibagi tiga periode gaya kepemimpinan Suharto:
- 1966-1976 (masa konsolidasi)
- 1977-1990 (masa represif),
- 1990-1998 (masa kebangkitan Islam)

Pada tahun 1966-1990 atau selama 24 tahun Suharto menggunakan kekuatan ABRI-Birokrasi-Golkar untuk berkuasa dan menyingkirkan kekuatan Islam. Selama 24 tahun (1966-1990) umat Islam disingkirkan dan secara bertahap menjadi warga negara kelas 2 (dua) di Indonesia meski mayoritas.

Sebaliknya, secara bertahap kelompok Katolik, Kejawen (agama Jawa) dan Tionghoa (cina Indonesia) menjadi warga negara kelas I, atau warga utama. Selama 24 tahun, hampir semua sumber daya negara dikuasai oleh kelompok Katolik, Kejawen dan Cina. Pak Harto anak emaskan tiga kelompok minoritas ini.

Pada tahap kedua ORBA (1977-1990), mayoritas Islam di Indonesia dijadikan “musuh negara”. ABRI-Birokrasi-Golkar dijadikan senjata.

Mayoritas jabatan/posisi strategis di ABRI dan Birokrasi dikuasai Kejawen & Katolik. CSIS sebagai otak/think-tank nya dalam menyingkirkan Islam. Mayoritas sumber daya ekonomi diserahkan kepada etnis Cina, Katolik dan Kejawen. Mereka mendapat hak-hak istimewa dari regim Suharto.

Untuk mencegah kelompok Cina yang sudah diberi hak istimewa di sektor ekonomi, ingin jadi penguasa di sektor politik, Suharto terapkan rambu-rambu. Suharto berikan Tionghoa konsesi luar biasa di sektor ekonomi tetapi batasi hak-hak politik mereka untuk menjadi penguasa sektor politik.

Tionghoa dibatasi peran mereka di sektor politik, ABRI dan birokrasi. Sekaligus untuk mengawasi Tionghoa yang sekitar 3 (tiga) persen jumlahnya. Kaum Tionghoa, pada masa Orde Lama merupakan salah satu pendukung utama PKI/komunis, berkiblat ke RRC, salah satu poros Komunis.

Mayoritas kelompok Cina Indonesia, sejak masa penjajahan, zaman revolusi dan masa orde lama, adalah kolaborator penjajah dan sekutu PKI. Pemerintahan Suharto pada masa konsolidasi (1966-1977) menyaring kelompok Cina jenis ini (PKI). Sebagian dari mereka kabur ke luar negeri. Sementara kelompok Cina yang sudah menunjukan kesetiaan pada rezim suharto, diberi konsesi ekonomi luar biasa. Mereka tumbuh jadi konglomerat RI.

Namun, Suharto kena batunya ketika konglomerat-konglomerat Cina Indonesia ini mengkhianati Suharto, tidak mau dukung program revitalisasi UKM-Koperasi.

Mayoritas konglomerat Cina yang tergabung dalam Yayasan Prasetya Mulya pimpinan Liem Sioe Liong dan Sofyan Wanandi khianati Suharto.

Setelah disuapi, diberi konsesi ekonomi (hak distribusi, produksi, monopoli, impor, HPH, lahan, perizinan, perbankan dan lain-lain), Cina khianat. Konglomerat Cina tidak bersedia penuhi permintaan Suharto untuk menyisihkan 1-2,5 persen laba mereka untuk pengembangan koperasi/UKM pribumi.

Di Tapos, secara blak-blakan, semua konglomerat Cina ini menolak sumbang 1-2,5% laba bersih mereka untuk bangun ekonomi pribumi. Suharto SHOCK. Suharto baru tersadar dia telah besarkan anak macan, persis kayak Prabowo atau Megawati besarkan Jokowi, anak macan yang berkhianat.

Suharto tersadar, tapi sudah terlambat. Dia salah memilih kelompok Tionghoa sebagai sekutu di bidang ekomomi. Suharto coba koreksi kebijakannya.

Setelah dikhianati Tionghoa, Soeharto mulai beri konsesi pada kelompok pribumi, dibentuk Menteri Muda UPPDN, ditunjuk Ginanjar Kartasasmita. Ginanjar Kartasasmita mulai membangun jaringan pengusaha pribumi Indonesia dengan alumni ITB dan HIPMI sebagai basis utamanya. Ginanjar pun mulai membangun jaringan pengusaha pribumi Indonesia dengan alumni ITB dan HIPMI sebagai basis utamanya.

Tapi, konglomerat Cina melawan. Mereka bangun jaringan bisnis dan tanamkan investasi besar-besaran ke luar negeri, dengan basisnya di: RRC, Taiwan dan Singapura.

Prabowo dipanggul kopassusDi bidang politik, kelompok Katolik dan Kejawen yang sebelumnya diberi konsesi besar di ABRI, Birokrasi dan bisnis, juga khianati Suharto. LB Moerdani, tokoh Katolik di ABRI diam-diam terapkan operasi penghancuran Islam, sekaligus menjerumuskan dan menjebak Suharto agar perangi Islam.

Moerdani singkirkan perwira-perwira ABRI yang Islam, diganti dengan Katolik, Kristen dan Kejawen. Didoktrin agar anti Islam, perangi Islam.

Tidak cukup dengan perangi dan bantai umat Islam (Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari Lampung dan seterusnya), Moerdani juga merekayasa teroris Islam (pembajakan Woyla). Puncaknya, Moerdani paksa semua ormas Islam mengganti azas mereka menjadi azas tunggal Pancasila. Azas Islam haram. Ilegal. Dianggap melanggar hukum.

Moerdani berharap jika umat Islam ditekan habis-habisan, dibantai, diperangi, umat Islam akan marah dan jadikan Suharto sebagai musuh Islam. Suharto sempat terjebak dan hampir jadi korban adu domba dan strategi keji Moerdani, namun Allah Maha Besar, Dia intervensi.

Allah intervensi dengan caranya yang “misterius”.

Moerdani ingin adu domba Suharto dan Islam. Dia tanam staf khususnya di Cendana, ke jantung kekuasaan Suharto. Seorang perwira muda, brilian, jenius, prestasi militer hebat, berpangkat kapten, staf khusus LB Moerdani (Menhankam/Pangab), bernama: Prabowo!

Kapten Prabowo, staf khusus Moerdani, yang sudah bertunangan, dijodohkan Moerdani dengan Titiek, putri Suharto. Mereka lalu menikah. Setelah berpacaran sebentar, Kapten Prabowo dan Titiek Suharto menikah. Moerdani loncat-loncat kegirangan, berhasil tanam Prabowo di Cendana

Tapi, perkawinan Prabowo dan Titiek Suharto ternyata menjadi titik awal “Intervensi Allah”. Subhanallah, Allahu Akbar!

Moerdani tidak menyangka sama sekali, seluruh rencananya: menghancurkan Islam dan Suharto, musnah gara-gara Prabowo. Intervensi Allah, tanpa diduga Moerdani, turun melalui Prabowo.

Prabowo yang sebelum dan setelah jadi menantu Suharto, karena jabatannya sebagai staf khusus Menhankam/Pangab LB Moerdani, tahu banyak operasi Moerdani. Prabowo mengetahui hampir semua rencana LB Moerdani menghancurkan Islam dan adu domba Islam dengan Suharto, mertuanya.

Rencana besar Moerdani (LBM) adalah, Suharto akan jadikan dia wakil presiden pada 1988 dan kemudian dia akan jadi presiden pada 1993. Jika Moerdani berkuasa sebagai Presiden, umat Islam Indonesia akan jadi umat jajahan kembali, dijajah Londo ireng (hitam) bernama Moerdani.

Tetapi Allah Maha Besar, siapa sangka Kapten Prabowo, seorang sebenarnya masuk kategori Muslim abangan, bahkan keluarganya banyak yang non-muslim, justru menjadi pahlawan umat Islam RI?

Kapten Prabowo, melihat bencana besar terhadap Islam dan Indonesia jika Benny Moerdani berhasil menjalankan strateginya. Prabowo mulai melakukan perlawanan, melaporkan rencana dan operasi LBM kepada Suharto, mendekati umat Islam, galang ABRI Islam lawan LBM.

Yang paling fenomenal adalah keberhasilan Prabowo menyadarkan Ibu Tien Suharto dan Pak Harto untuk jadi mualaf (dari Kejawen, agama Jawa), masuk Islam pada 1989. Kemudian dilanjutkan dengan keberangkatan Pak Harto, Bu Tien dan keluarga Cendana ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji pada 1991.

Sejak Pak Harto dan Ibu Tien masuk Islam, Politik Indonesia berubah. Tahap ketiga Orba dimulai: Kemerdekaan Islam Indonesia (1990-1998). Kemerdekaan Islam Indonesia dipelopori seorang anak manusia dari keluarga Islam abangan cendikiawan: Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Pak Harto, Ibu Tien, Cendana masuk Islam, naik haji. Tobat nasuha. Islam mulai diperlakukan adil dan proporsional, setelah 24 tahun dizalimi. Tokoh-tokoh Islam dikader, diberi kesempatan untuk karier politik dan militer. NU, Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam tidak lagi dicurigai sebagai musuh.

Kader-kader muda Islam dibina Suharto dan Prabowo: Din Syamsuddin, Jimly Assiddiqie, Idrus Marham, Hadjrianto Tohari, Agil Siradj, Yusril Ihza, dan seterusnya.

ICMI Berdiri, BMI didirikan, Harian Republika terbit, Dompet Dhuafa berkibar, jenderal-jenderal Islam dapat tempat, ekonomi dan politik Islam berperan.

Kabinet Suharto pun mulai menerima tokoh-tokoh Islam jadi menteri strategis. Sebelumnya, tidak ada tokoh Islam jadi menteri strategis. Semua dikuasai kelompok Kejawen dan Katolik. Selama 24 tahun, Islam jadi kusta.

Ketika tahun lalu bertemu Prabowo, kami sampaikan ke beliau: “Apakah Bapak sadar yang telah Bapak lakukan utk Islam Indonesia?”

Prabowo menjawab: “Sangat sadar! Tetapi kenapa sebagian tokoh Islam malah membenci saya?”

Kami jawab: “Tokoh Islam yang benci sama Bapak, hanya segelintir, sebab mereka tidak tahu sejarah. Mereka diperdaya fitnah dan opini sesat. Media, LSM, aktivis dan agen-agen konspirasi global yang jadi corong fitnah dan opini sesat, meracuni jiwa pikiran mereka. Mereka tdk sadar.”

“Mereka tidak sadar bahwa Pak Prabowo adalah tokoh yang ‘memerdekakan dan memberdayakan’ Islam dan pribumi di Indonesia. Selama Pak Prabowo tidak meninggalkan Islam dan Pribumi Indonesia, insya Allah, kami dan seluruh rakyat RI berada di belakang Bapak! Sekarang, Pak Prabowo telah buat kesalahan fatal, membesarkan anak macan bernama Jokowi yang didukung PKI dan musuh-musuh Islam.” Beliau kaget.

“Para pendukung Jokowi inilah yang menjadi otak krisis ekonomi, Korupsi BLBI, otak kerusuhan Mei 98, dan lainnya. Bapak difitnah, ditipu, diperdaya mereka. Sekarang mereka bangkit melalui Jokowi. Tugas dan tanggung jawab Bapak untuk mengatasinya,” tegas kami ke Prabowo.

Kembali ke Orde Baru 1990-1998, adalah era kemerdekaan dan kebangkitan Islam Indonesia setelah terjajah 24 tahun dan kini mau dijajah lagi oleh asing-aseng-antek melalui Jokowi. Bahkan menfasilitasi komunis PKI bangkit untuk kuasai Indonesia. Hanya ada satu kata: LAWAN!

Sebab Indonesia ini adalah milik kita! Bukan milik asing-aseng-antek. Mereka adalah musuh kita. Dengan bersatu kita kalahkan mereka!

Segelintir elit Katolik dan Kristen mendukung Jokowi? Silahkan. Komunis PKI dan elit Cina korup dukung Jokowi? Silahkan! Kita LAWAN!

Sebab, Republik Indonesia ini MILIK KITA, bukan milik ‘kita palsu’ ala orang-orang jokowi! Dengan bersatu mereka kita kalahkan dan kita musnahkan!

Sebab, Komunis tidak ada tempat di Indonesia yang agamis dan Pancasilais. Komunis tidak ada tempat di hati dan pikiran para Nasionalis.

Siapkah rakyat bersatu dengan TNI basmi komunis/PKI (lagi)? Siap? Mari kita sikat semua! Bismillah… Allahu Akbar!

MERDEKA !!

SILAKAN BACA JUGA:
Gerindra dan PKS Tandatangani Piagam Koalisi
Ulama Banten Siap Menangkan Prabowo-Hatta