Kebijakan Orde Baru terhadap Masyumi dan Islam (3-habis)

Oleh: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

Partai Masyumi
Partai Masyumi

Tak ada yang menyangsikan bahwa sikap anti Islam ideologis dan politis di bawah Orde Baru ini tanpa arahan, atau paling tidak di bawah pengetahuan Presiden Soeharto. Soeharto sendiri berasal dari kalangan Jawa Abangan, walau di masa kecil pernah belajar di sekolah Muhammadiyah dan aktif belajar mengaji serta tidur di mesjid di kampungnya. Namun pemahaman Soeharto terhadap agama tergolong minim, begitu juga ketaatannya dalam menjalankan ibadah agama. Sampai akhir dekade tahun 1980-an, rakyat tak pernah tahu apakah beliau mengerjakan solat Jum’at apa tidak. Tak pernah beliau nampak pergi menunaian solat Jum’at di Masjid Baiturrahim di Istana Negara atau mesjid lainnya. Walau begitu, Soeharto selalu mengucapkan salam baik di awal maupun di akhir pidatonya, meskipun di dalam teks pidatonya, ucapan salam itu tidak ada. Soeharto dan Ibu Tien hanya nampak menghadiri acara Nuzul Qur’an di Istana negara, dan peringatan Isra Mi’raj dan Nuzul Qur’an di Mesjid Istiqlal. Dalam ucapan lisannya sehari-hari Soeharto lebih banyak mengutip mutiara-mutiara falsafah Jawa – terutama Ronggowarsito – daripada merujuk kepada khazanah ajaran Islam.

Kesadaran Soeharto terhadap Islam mulai tumbuh ketika usianya kian senja. Dalam Muktamar Muhammadiyah di Solo pada tahun 1985, tanpa diduga Soeharto mengatakan bahwa dia bersyukur pernah mengenyam pendidikan Muhammadiyah. Padahal kata-kata itu tidak ada dalam teks pidato resminya yang disiapkan Mensesneg Moerdiono. Warga Muhammadiyah seolah mendapat angin segar. Saya mendengar sejak itu ada pengajian agama Islam yang dilakukan diam-diam di rumah Soeharto. Pelan-pelan Soeharto mulai menampakkan sosok keislamannya. Dia mendukung upaya Munawir Sadjzali untuk menciptakan UU Peradilan Agama pada tahun 1989, dan kemudian mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Kompilasi Hukum Islam. Dua hal semacam ini hampir mustahil terjadi di awal maupun di pertengahan usia Orde Baru. Di masa itu, setiap pembicaraan mengenai hukum Islam dan lembaga-lembaganya, dengan mudah akan dituduh untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta.
BACA SELENGKAPNYA “Kebijakan Orde Baru terhadap Masyumi dan Islam (3-habis)”

Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1

PRABOWO DULU AKTIF MEMBANTU ABRI HIJAU (1)

Wawancara Tabloid SUARA MUSLIM dengan Brigjen (Purn) ADITYAWARMAN THAHA (mantan Staf Ali Panglima ABRI)

???????????????????????????????
Brigjen TNI Purn. ADITYAWARMAN THAHA

Lelaki kelahiran Sumatera Barat, 4 Maret 1945 ini senang berada di balik layar. Ia jarang muncul di publik. Padahal peran dia cukup besar dalam usaha dakwah Islam di kalangan militer. Bersama Kivlan Zen dkk sewakru pendidikan militer di Magelang dulu, tahun 1967-an, Adit aktif dalam menggerakkan taruna untuk mendalami Islam. “Kita kadang mengadakan pengajian di luar asrama dengan mengundang penceramah luar,” kata Adit dalam wawancaranya dengan Suara Islam.

Sebetulnya Adit sudah diminta wawancara Suara Islam dua tahun lalu, Adit tidak bersedia. Sekarang di Pilpres ini, Adit mau tampil untuk menyampaikan kenapa memilih PRABOWO untuk menjadi presiden.

Sebelum masuk taruna di Magelang, Adit sempat menghadap Buya Mohammad Natsir, tokoh Islam nasional yang sangat disegani saat itu. Ia diberi Pak Natsir selebnar surat untuk dibawa ke tokoh PP (Pelajar Islam Indonesia) dan Masyumi Magelang, Bapak Cholil Badawi. Di rumah Pak Cholil lah, Adit, Kivlan, Bambang Sukoco, Saiful Islam, Anwar Sudarminto dan lain-lain sering mengadakan diskusi-diskusi tentang masalah keislaman.

Adit, mantan Kepala Dinas Penerangan Umum Puspen ABRI (1995) ini memang hobi dengan kegiatan-kegiatan Islam. Ia berkisah tentang masa lalunya:
BACA SELENGKAPNYA “Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1″