Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita

Abad Kegelapan Akademisi dan Perguruan Tinggi Kita

Oleh: Hersubeno Arief

Sejak kapan seorang Menristek Dikti menjadi seorang Panglima Kopkamtib yang berwenang membatasi kebabasan akademis? Sejak kapan di negara demokrasi kebebasan berpikir dan berpendapat dibatasi?

Dunia akademis dan perguruan tinggi kita sedang memasuki abad kegelapan. Persekusi dan stigma radikal yang disematkan oleh BNPT dan Menristek Dikti mengingatkan kita pada masa-masa inkuisisi di Spanyol (1.478-1.834), di Italia (1.208-1.834).

Inkuisisi (Roman Catholic Tribunal) adalah sebuah pengadilan yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma untuk memberantas praktik-praktik agama yang dinilai sebagai bid’ah. Tidak boleh ada pemikiran yang berbeda apalagi bertentangan dengan doktrin dan keyakinan gereja. Para pemimpin gereja adalah pemilik monopoli kebenaran.

Tujuan inkuisisi adalah quoniam punitio non refertur primo & per se in correctionem & bonum eius qui punitur, sed in bonum publicum ut alij terreantur, & a malis committendis avocentur. Hukuman bukan dijatuhkan terutama dan per se demi perbaikan dan kebaikan si terhukum, melainkan demi kebaikan masyarakat agar orang-orang lain menjadi takut dan menjauhkan diri dari kejahatan-kejahatan yang hendak mereka lakukan. Jadi targetnya adalah efek jera massal di masyarakat.
BACA SELENGKAPNYA “Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita”

Politik Ideologis vs Politik Sembako

Oleh: Nasihin Masha

Nasihin Masha cropPada 1926, Bung Karno menulis artikel berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tiga ideologi ini memang kemudian, bagi Sukarno, menjadi sesuatu yang baku dalam memotret realitas sosial-politik di Indonesia.

Hal ini dibuktikan ketika satu dekade menjelang kekuasaannya runtuh, ia mengkristalkannya menjadi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Islamisme menjadi diperluas ke dalam agama, dan Marxisme dipersempit menjadi komunisme.

Itulah tiga realitas sosial politik yang hidup saat itu. Permenungannya tentang tiga kekuatan ideologis tersebut berangkat sejak ia menjadi pemondok termuda di rumah Peneleh, kos-kosan milik ketua Syarekat Islam, HOS Tjokroaminoto.
BACA SELENGKAPNYA “Politik Ideologis vs Politik Sembako”