Perang Kotor Jokowi

Perang Kotor Jokowi

Oleh: Hersubeno Arief

Dengan pengakuan Andi Wijayanto jelas sudah,  serangan Jokowi secara pribadi kepada Prabowo sudah direncanakan secara matang. Jokowi dengan kekuasaan di tangannya bisa leluasa mengakses semua informasi yang dimiliki pemerintah. Kemudian digunakan untuk melumpuhkan lawan politiknya.

Prabowo menyapa

Mudah-mudahan saja berita yang diturunkan laman tempo.co edisi Kamis (7/3) itu salah. Judulnya “Ketua Cakra 19: Jokowi Berpesan Gaspol Terus Soal Lahan Prabowo.”

Seandainya benar, sikap Jokowi ini sangat tidak etis.  Berpotensi melanggar praktik pemerintahan yang baik dan benar. 
BACA SELENGKAPNYA “Perang Kotor Jokowi”

Demagogi

Demagogi

Oleh : Rocky Gerung

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

***

BACA SELENGKAPNYA “Demagogi”

Makna Reuni 212

Apa Makna Reuni 212?

Oleh: Achmad Jainuri, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Reuni 212 menjawab semua ketidakadilan yang ditujukan kepada umat Muslim.

Dua artikel yang secara berturut-turut pernah dimuat di the New Yorker pada Mei dan Juni, 1988, menarik untuk dibuka kembali, terkait bagaimana memahami potensi Islam dan umat Muslim di Indonesia.

Menurut media bulanan ini, dua kekuatan politik yang sangat berpengaruh di Indonesia era 1980-an hanya ada dua, semuanya berbaju ‘hijau’. Hijau yang pertama adalah ABRI, sedangkan hijau kedua adalah umat Muslim.

Dua kelompok itulah sesungguhnya yang disebut the real political power di Indonesia, jika keduanya berada dalam sistem kekuasaan. Karena rezim yang berkuasa saat itu adalah hijau yang pertama, maka disarankan untuk ‘berbaik’ dengannya.

Sedangkan ‘hijau’ yang kedua terabaikan karena tidak berada dalam struktur kekuasaan. Hingga kini, Islam dan Muslim seakan menjadi kekuatan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja bagi yang menginginkan keuntungan politik darinya.
BACA SELENGKAPNYA “Makna Reuni 212″

Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Oleh: Hersubeno Arief - pemerhati ruang publik

hersubeno-ariefTANDA-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku,  framing dan black out.
Berita Terkait

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita,   bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta.

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (4/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati  koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita  jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.
BACA SELENGKAPNYA “Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri”

Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita

Abad Kegelapan Akademisi dan Perguruan Tinggi Kita

Oleh: Hersubeno Arief

Sejak kapan seorang Menristek Dikti menjadi seorang Panglima Kopkamtib yang berwenang membatasi kebabasan akademis? Sejak kapan di negara demokrasi kebebasan berpikir dan berpendapat dibatasi?

Dunia akademis dan perguruan tinggi kita sedang memasuki abad kegelapan. Persekusi dan stigma radikal yang disematkan oleh BNPT dan Menristek Dikti mengingatkan kita pada masa-masa inkuisisi di Spanyol (1.478-1.834), di Italia (1.208-1.834).

Inkuisisi (Roman Catholic Tribunal) adalah sebuah pengadilan yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma untuk memberantas praktik-praktik agama yang dinilai sebagai bid’ah. Tidak boleh ada pemikiran yang berbeda apalagi bertentangan dengan doktrin dan keyakinan gereja. Para pemimpin gereja adalah pemilik monopoli kebenaran.

Tujuan inkuisisi adalah quoniam punitio non refertur primo & per se in correctionem & bonum eius qui punitur, sed in bonum publicum ut alij terreantur, & a malis committendis avocentur. Hukuman bukan dijatuhkan terutama dan per se demi perbaikan dan kebaikan si terhukum, melainkan demi kebaikan masyarakat agar orang-orang lain menjadi takut dan menjauhkan diri dari kejahatan-kejahatan yang hendak mereka lakukan. Jadi targetnya adalah efek jera massal di masyarakat.
BACA SELENGKAPNYA “Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita”

Politik Ideologis vs Politik Sembako

Oleh: Nasihin Masha

Nasihin Masha cropPada 1926, Bung Karno menulis artikel berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tiga ideologi ini memang kemudian, bagi Sukarno, menjadi sesuatu yang baku dalam memotret realitas sosial-politik di Indonesia.

Hal ini dibuktikan ketika satu dekade menjelang kekuasaannya runtuh, ia mengkristalkannya menjadi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Islamisme menjadi diperluas ke dalam agama, dan Marxisme dipersempit menjadi komunisme.

Itulah tiga realitas sosial politik yang hidup saat itu. Permenungannya tentang tiga kekuatan ideologis tersebut berangkat sejak ia menjadi pemondok termuda di rumah Peneleh, kos-kosan milik ketua Syarekat Islam, HOS Tjokroaminoto.
BACA SELENGKAPNYA “Politik Ideologis vs Politik Sembako”

Mosi Integral Natsir

Mosi Integral M. Natsir & Proklamasi NKRI

Oleh: Lukman Hakiem

3 April 65 tahun yang lalu, Mohammad Natsir (1908-1993) menyampaikan pidato di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Republik Indonesia Serikat (DPRS RIS). Pidato itu diberi judul Mosi Integral.

Sebagaimana diketahui, Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus-2 November 1949 menghasilkan empat hal sebagai berikut: (1) Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia Serikat setuju membentuk Uni yang longgar antara Negeri Belanda dan RIS dengan Ratu Belanda sebagai pimpinan simbolis; (2) Sukarno dan Mohammad Hatta akan menjabat Presiden dan Wakil Presiden, dan antara 1949-1950 Hatta akan merangkap menjadi Perdana Menteri RIS; (3) Belanda masih akan mempertahankan Irian Barat, sekarang Papua, dan tidak ikut dalam RIS sampai ada perundingan lebih lanjut; dan (4) Pemerintah RIS harus menanggung hutang pemerintah Hindia-Belanda sebesar 4,3 miliar Gulden.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda secara resmi menyerahkan (dalam versi Indonesia: mengakui) kedaulatan Indonesia, minus Irian Barat.

BACA SELENGKAPNYA “Mosi Integral Natsir”