Ahok dan Karma Pengkhianatan

Ketulusan yang Tersakiti itu Melahirkan Karma

Oleh: Nanik Sudaryati (wartawan senior)

Prabowo dan Akok sekeluarga

Karma atau apalah bahasa kalian, saya hanya ingin menulis sebuah kisah di mana saya menjadi saksi dari sebuah pengkhianatan. Saya tidak akan menulis detail, saya akan persingkat saja.

Ketika dulu Jokowi sudah mulai dilirik Bu Mega, persoalan muncul karena PDIP hanya punya 11 kursi (kalau tdk salah) di DPRD DKI, jadi tidak bisa mendafatar sendiri . Perlu 4 kursi lagi.

Jokowi yang tidak begitu mengenal orang politik dan tidak punya uang untuk memberi mahar partai politik, akhirnya menghubungi Hasjim Djojohadikusumo yang tak lain adalah adik Prabowo Subianto, untuk mendukungnya karena Gerindra punya 6 kursi.

Ternyata, meski kursi sudah cukup untuk mendaftar, Megawati masih belum memberikan restu untuk Jokowi, yang kala itu belum ada pasangannya. Lalu Prabowo-lah yang berjibaku melobi Megawati agar PDIP mau mencalonkan Jokowi.

Untuk meyakinkan Mega, Prabowo kemudian mengajak Jusuf Kalla untuk memastikan bahwa, ia (Prabowo) yang akan mencari dananya, karena waktu itu alasan Mega tidak mencalonkan Jokowi karena PDIP tidak punya modal untuk membiayai Jokowi.

Saat restu Megawati sudah dikantongi, persoalan muncul , siapa yang jadi wakilnya Jokowi? Dan atas rekomendasi Hasjim, Prabowo akhirnya menerima nama Ahok yang kala itu hanya anggota Komisi II DPR RI dari fraksi Golkar, yang juga mantan Bupati Belitung Timur. Ia pernah mencalonkan diri di Pemilihan Gubernur Bangka Belitung tapi gagal.

Saat nama Ahok disodorkan Prabowo ke Mega sebetulnya Jokowi kurang sreg, dan lebih sreg memilih satu nama (maaf tidak saya sebutkan). Bahkan Jokowi terang-terangan keberatan berpasangan dengan Ahok. Kok saya tahu? Sekitar pukul 10 malam sebelum esok mendaftar ke KPU Jokowi menelpon saya dan curhat soal keberatannya berpasangan dengan Ahok. Lalu saya mendorong dia (Jokowi) untuk menerima, karena dia pilihan Prabowo. Saya khawatir kalau Jokowi pilih sendiri, nanti Gerindra batal memberikan kursinya.

Setelah panjang lebar saya bicara dengan Jokowi (nomer telpon saya masih sama, kalau saya bohong pasti masih ada rekamannya yang bisa dibuka), akhirnya Jokowi legowo menerima Ahok sebagai pasangannya.

Sekedar informasi, sebelum akhirnya Prabowo mendukung Jokowi dan membawa Ahok sebagai wakilnya, Gerindra sebetulnya sudah mendukung (menandatangani surat dukungan) Fuzi Bowo (Foke) dengan janji mahar yang tidak kecil.

Sikap Prabowo yang malah mati-matian mendukung Jokowi dan Ahok, membuat pengurus DPP Gerindra kalang kabut, karena sudah berjanji dan teken mendukung Foke.

Prabowo ngotot mendukung Jokowi dan Ahok dengan alasan karena keduanya masih muda, berasal dari daerah, dan dalam kaca mata Prabowo memiliki hati “merah putih”, di mana Prabowo berharap bisa membawa kemajuan bagi Jakarta.

Puluhan miliar uang Hasjim (adik Prabowo) dan juga uang pribadi Prabowo digunakan untuk memenangkan pasangan ini. Dan luar biasa, dengan dana yang tidak ada apa-apanya dibanding Foke, lewat tangan dingin Prabowo yang kala itu masih punya hubungan “mesra” dengan Megawati, maka pasangan ini akhirnya menang.

Namun apa akhirnya yang diterima Prabowo? Sebuah pengkhianatan! Pengkhianatan pertama terjadi saat Ahok keluar dari Gerindra dengan statement-statement yang sangat menyudutkan Gerindra. Kemudian yang kedua, Ahok yang tadinya NOTHING dan diangkat derajatnya oleh Prabowo jadi wakil gubernur DKI, ternyata tidak mendukung Prabowo saat Pilpres, tapi malah mendukung Jokowi.

Lihat di foto yang saya sertakan, betapa tulus dan bangganya Prabowo saat menerima Ahok di rumahnya, tak lama setelah Ahok dilantik jadi Wagub . Dan saat Ahok datang ke Hambalang kemudian bertanya pada Prabowo, minta apa karena sudah membantu dia jadi wakil gubernur? Prabowo menggeleng tegas sambil mengatakan, “Saya tidak minta apa-apa, jadilah Anda pejabat yang baik, pejabat yang tidak korup dan mencintai rakyat,” kata Prabowo dengan suara luar biasa tulus dan bijak bak seorang ayah pada anaknya. Tak hanya itu, Prabowo juga berpesan bahkan kalau ada orang-orang Gerindra yang minta proyek, ia minta Ahok lapor kepadanya.

Teman, namun ketulusan itu akhirnya dibalas air tuba. Tapi Prabowo tidak pernah marah atau membalas pengkhiantan itu. Bahkan saat kemarin Ahok sudah kalah, dia meminta pendukungnya untuk tidak mengolok-olok Ahok.

Ahok yang bukan siapa-siapa kemudian menjadi legendaris karena ketulusan Prabowo yang mengangkatnya, namun kemudian mengkhianati Prabowo dan keluarganya, kini berada di Cipinang.
Ini pembelajaran kita semua, jangan pernah berbuat jahat atau berkhianat pada orang yang tulus ikhlas membantu kita.

Dalam hal ini Prabowo sendiri tidak memiliki dendam, karena dia pernah bilang, saking sering dikhianati ia sudah kebal terhadap rasa sakit. Bahkan ia selalu memaafkan siapa saja yang menyakitinya. Namun Allah tentu tidak begitu saja menerima hamba-Nya yang tulus itu dikhianati.

Apakah kini Ahok menerima sebuah KARMA atas pengkhianatan yang ia lakukan terhadap kebaikan dan ketulusan seorang Prabowo? Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>