Nafsu Menghapus Islam Politik

Keburu Nafsu Menghapus Islam Politik

Oleh: Muhammad Subarkah

“Agama (Islam) tak usah dibawa-bawa ke dalam politik!” Jargon ala penasihat pemerintah kolonial Belanda Christian Snouck Hurgronje ini terus berdengung hingga sekarang, bahkan terasa akhir-akhir ini semakin kencang meski Pemilu 2014 sudah berlalu. Tuduhannya pun macam-macam, mulai dari sekadar guyon soal dilarangnya night club, lokalisasi penjaja seks, hingga tuduhan serius soal wacana teroris Islam hingga perang terhadap ‘Islam’ yang dibentuk ISIS.

Memang Hurgronje sudah lama meninggal. Zaman sudah berganti dan kolonial sudah pergi. Namun, entah mengapa soal Islam politik terus dicurigai. Setelah kemerdekaan, tepatnya pada 1960-an ada jargon yang ‘nyinyir’ kepada gerakan Islam yang memperjuangkan ide politik (Islam politik). Saat itu munculah seruan: waspadalah kepada kaum sarungan! Slogan serupa pun banyak bermunculan saat itu. Salah satu contohnya adalah menyamakan para pemimpin pesantren yang punya lahan sawah luas sebagai setan desa.

Setelah, masa Orde Lama pimpinan Bung Karno lewat, hal yang sama juga terjadi. Pada akhir 1980-an, ketika terjadi perdebatan panas soal rancangan undang-undang peradilan agama, muncul juga sebutan sinis. Seorang petinggi intelijen yang sangat ditakuti menyebut bahwa saat ini ada gerilya kembali ke Piagam Jakarta. Arah tuduhan ini jelas bahwa umat Islam masih tetap memendam bara perjuangan hendak menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara Islam.

Dan, kini setelah tujuh belas tahun reformasi, tanda-tanda keinginan untuk menghapuskan ‘Islam poitik’ juga belum surut. Bahkan, keinginan itu terasa kuat setiap kali datang pemilu mulai dari tahun 1999-2014. Entah mengapa lembaga survei yang dalam pilpres selalu tepat dalam ‘meramal’ hitung cepat, ketika menyurvei partai Islam yang itu menjadi representasi terkuat dari Islam politik selalu mengatakan kekuatan ini akan mati atau terkubur dalam sejarah politik Indonesia. Bumbu ini makin sedap ketika membaca pesan yang bersliweran di dunia maya yang juga tampak jelas bersorak-sorak ketika kekuatan Islam politik tersudut dan layu dibakar terik zaman.
BACA SELENGKAPNYA “Nafsu Menghapus Islam Politik”