Kabar Terakhir Prabowo Malam ini

INGIN TAHU KABAR Pak Prabowo malam ini?

Oleh: Nanik S. Deyang (wartawati)

Saat saya terkulai di sofa, menahan panas badan setelah dua hari ini di dera flu berat, saya melihat salah satu asisten di rumah berlari-lari membawa handphone saya yang bunyi. Saya lihat ada nama seketaris Pak Prabowo Subianto (PS), Mas Irwan.

“Mbak dimana?” tanya Mas Irwan.
“Di rumah, tepar nih Mas.. kenapa mas?” jawabku.
“Enggak. Kalau dekat Jalan Diponegoro, bapak mau ketemu.”
“Ya sudah, saya ke situ aja, aku pengin lihat bapak biar sembuh sakitku,” kataku.

“Gak usah Mbak. Mbak kan di Cibubur, jauh.” Mas Irwan tahu bahwa Pak PS itu orang yg paling tidak mau menyusahkan orang. Jadi, meski saya tidak apa-apa jalan menemui bapak, mas Irwan bilang ndak usah.

“Kasihan mbak, kata bapak begitu.”
Ya sudah, saya rebahan lagi. Eh tidak lama kemudian, Mas Irwan telpon lagi, rupanya kali ini suara Pak PS sendiri.

“Mbak Nanik dimana? Sakit ya? Aduh kasihan, tapi tadi sempat monitor kan?”

“Iya Pak, saya drop banget Pak.”
“Jangan sakit. Saya saja sehat, masak Mbak Nanik sakit,” kata Pak PS di ujung telpon dengan tawa riang. (Masyallah, manusia hebat yang seharusnya jadi Presiden, namun dicurangi ini masih bisa membesarkan hati saya, padahal dia sudah dihabisi dengan berbagai fitnah dan kecurangan hari ini).

Saya benar-benar seperti terbangun dari keterpurukan, saat mendengar suara Pak PS begitu riang, tidak sedikit pun ada beban. Kami telpon lebih setengah jam, dan kadang kami tertawa-tawa terhadap segala derita yang menimpa kubu Pak PS.

Tak terasa air mataku terus meleleh, bersamaan dengan keluarnya keringat dari tubuh saya, dan suhu badan saya pun langsung turun. Pak PS mengatakan, ia tidak akan bertarung melalui Mahkamah Konstitusi (MK), karena percuma, pasti juga akan kalah dengan duit dari pihak lawan yang tidak ada batasnya dan bisa membeli apa saja.

“Saya mundur supaya saya dan pemilih saya tidak ikut dalam permainan kotor mereka,” kata Pak PS.

“Saya juga tidak AKAN MEREBUT KEMENANGAN MEREKA,” kata Pak PS.

Pak PS mengatakan, ia bisa saja mengerahkan pengikutnya kalau hanya mau merebut kekuasaan, namun ia berkali-kali mengatakan, ia lebih memilih menang secara MORAL dengan mundur dan tidak meneruskan pertarungan yang penuh dengan kecurangan. Pak PS mengatakan, bersama rekan koalisi tetap akan membangun negeri ini.

Saya tidak tahan dengar suaranya yang arif dan bijak. saya benar-benar menangis.

Setelah menutup telpon dengan Pak PS, saya bilang pada Allah SWT, “Ya Rab, jika toh kali ini Engkau tidak kabulkan doaku Prabowo jadi Presiden, tapi perbolehkan saya untuk menganggap Prabowo adalah The Real President, karena sejatinya dia lah yang MENANG, karena didukung oleh suara riil rakyat yang lebih banyak, bukan seperti sebelah yg sebetulnya didukung rakyat secara artifisial (suara fiktif).”

Dan saya akan mengajak teman-teman untuk mendukung Pak Prabowo, terus berjuang untuk Indonesia Raya. Bagi Pak Prabowo, tidak menjadi Presiden sebetulnya tidak patekan. Tapi rakyat Indonesia justru kehilangan kesempatan memiliki pemimpin yang tulus dan ikhlas.*

BACA JUGA:
Habib Kwitang Doakan Prabowo-Hatta Menang
Mencatat Sejarah Masyumi

Hikmah Pilpres Tahun Ini

PILPRES yang PENUH HIKMAH

Oleh: Rudi B. Rosidi

Bersyukur kepada Allah SWT, dengan adanya Pilpres 2014 ini. Banyak hikmah yang didapatkan dari Pilpres kali ini:

1. Ketegasan warna Kelompok Islam dan Kelompok Sekuler semakin kuat. Kondisi ini mengurangi dan mempersempit gerak kelompok abu-abu yang menciderai kualitas ketegasan sebuah ideologi.

2. Ketegasan warna Masyarakat Rasional dan Masyarakat Emosional semakin jelas.

3. Pembedaan antara cendekiawan-akademisi yang sesungguhnya, dengan cendekiawan-aka demisi yang menjadi “pelacur budaya ilmiah” semakin dipahami oleh masyarakat rasional.

4. Polarisasi kualitas teman, rekan dan orang pada umumnya semakin menguat. Mana rekan yang rasional, mau membuka ruang dialog, berdiskusi, dan menyukai majelis ilmu, dan mana rekan yang emosional, memaksakan kehendak, suka berdebat, dan menyukai majelis gosip.

5. Masyarakat bisa lebih memahami bahwa hampir tak ada satu media pun yang tidak punya kepentingan dan menjunjung tinggi nilai-nilai obyektifitas. Bahwa kehidupan kita tidak lepas dari konspirasi informasi yang berusaha mencuci otak orang-orang awam.

6. Kita akhirnya ‘dipaksakan’ untuk memilih mana kelompok elite, kelompok masyarakat, dan media yang dijadikan sebagai sumber informasi dan teman sejati.

7. Masyarakat menjadi terbuka mata hatinya bahwa campur tangan asing pada bangsa ini begitu kuat adanya. Mereka melakukan konspirasi yang hanya bertujuan mengeruk keuntungan dari bangsa ini dengan cara memecah belah anak-anak bangsa, salah satunya melalui tangan-tangan para pengkhianat bangsa.

8. Masyarakat menjadi lebih paham bahwa dunia politik menjadi amat sangat penting untuk kita fikirkan karena akan sangat mempengaruhi kehidupan bangsa.

9. Masyarakat menjadi lebih memahami pentingnya persatuan dalam melawan ketidakadilan.

10. Masyarakat menjadi lebih paham bahwa tantangan yang dihadapi bangsa ini semakin berat. Dan,

11. Kita semua bisa memahami, pada setiap perjuangan dan totalitas melakukan menyerukan keyakinan kebenaran, kita masih berada pada level mana, seorang kader, anggota, simpatisan, apatis, atau malah menjadi hater.

Semoga generasi penerus bangsa ini tidak dipenuhi oleh orang-orang yang hanya berfungsi seperti buih yang mudah terombang-ambing. Namun dipenuhi oleh ombak-ombak yang mampu menghasilkan energi besar untuk memecah karang kesuraman hidup. Pilihan kita adalah keputusan yang akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia, namun jua selepas nafas terputus dari raga.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawa bannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Semoga Tuhan memberikan hidayah dan taufik kepada kita semua. Aamiin…

SILAKAN BACA JUGA:
Bertemu PBNU, Prabowo Sepakat Buat Suasana Politik Sejuk
Habib Kwitang Doakan Prabowo-Hatta Menang

Bertemu PBNU, Prabowo Sepakat Buat Suasana Politik Sejuk

Prabowo Bertemu PBNU, Sepakat Jaga Suasana Politik Sejuk

 

Calon Presiden Prabowo Subianto hari ini, Selasa 15 Juli 2014, bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradz bersama 12 ketua ormas NU. Pertemuan ini membahas situasi politik saat ini yang semakin memanas.

“Kita silaturahmi. Kita prihatin. Kita himbau susana sejuk. Saya instruksikan semua kader dan simpatisan jangan terprovokasi,” kata Prabowo di kantor PBNU, Jakarta.

Prabowo mengatakan, silaturahmi ini juga sekaligus menjalin kesepakatan dengan PBNU bersama 12 Ormasnya untuk tetap menjaga keamanan para pendukung dan menurunkan suhu politik.

“Kami mendapat kesepakatan untuk sinergi. Kami prihatin dengan upaya mempengaruhi politik. Waspada intervensi asing. Dengan NU kita akan menjaga kesejukan,” ujar Prabowo.

Bagi semua pendukungnya dan jajaran NU, Prabowo meminta semua untuk bersabar dan kuat menahan intimidasi. Ia berjanji akan berupaya melindungi para pendukungnya dan seluruh rakyat Indonesia.

“Jangan takut. Kita sabar bukan lemah. Kita mengutamakan jalan damai. Kita percaya NKRI akan tetap bersatu,” terang Prabowo.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu meminta semua kubu untuk bersabar menunggu hasil keputusan KPU. “Kita tunggu semuanya. Proses demokrasi masih berjalan,” jelas dia. (ren)

Sumber: Vivanews

SILAKAN BACA JUGA:
Silaturahim Prabowo-Jokowi
Aktivis Masjid Salman ITB Dukung Prabowo-Hatta

Silaturahim Prabowo-Jokowi

ICMI Dukung Rencana Silaturahimkan Prabowo-Jokowi

 

Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof Nanat Fatah Natsir, mendukung usulan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, untuk mengadakan silaturahim antara dua kandidat yang bersaing dalam Pemilu Presiden untuk menciptakan suasana yang sejuk.

“Sebaiknya silaturahim itu secepatnya dilakukan untuk memberikan suasana sejuk agar tidak terjadi perpecahan di masyarakat,” kata Nanat Fatah Natsir dihubungi di Jakarta, Selasa.

Namun, berbeda dengan usulan Din Syamsuddin yang akan menyatakan Muhammadiyah akan memfasilitasi silaturahim itu, Nanat mengusulkan agar silaturahim itu melibatkan para penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu.

“Saya mengusulkan Ketua KPU Husni Kamil Malik dan Ketua Bawaslu Muhammad yang mengundang kedua calon presiden dan wakil presiden bersilaturahim dalam acara buka bersama,” tuturnya.

Sebelumnya, pada diskusi “Peta Damai Pascapilpres” yang diadakan MPR, Senin (14/7), Din menyatakan akan memfasilitasi Prabowo Subianto dan Joko Widodo untuk bersilaturahim guna menciptakan suasana sejuk.

“Saya melihat berbagai elemen masyarakat saat ini sudah terbelah karena penyelenggaraan pilpres. Bahkan, kiai dan ulama juga terbelah,” kata Din.

Sumber: Republika Online

SILAKAN BACA JUGA:
Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau (1)
Aktivis Masjid Salman ITB Dukung Prabowo-Hatta

Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1

PRABOWO DULU AKTIF MEMBANTU ABRI HIJAU (1)

Wawancara Tabloid SUARA MUSLIM dengan Brigjen (Purn) ADITYAWARMAN THAHA (mantan Staf Ali Panglima ABRI)

???????????????????????????????
Brigjen TNI Purn. ADITYAWARMAN THAHA

Lelaki kelahiran Sumatera Barat, 4 Maret 1945 ini senang berada di balik layar. Ia jarang muncul di publik. Padahal peran dia cukup besar dalam usaha dakwah Islam di kalangan militer. Bersama Kivlan Zen dkk sewakru pendidikan militer di Magelang dulu, tahun 1967-an, Adit aktif dalam menggerakkan taruna untuk mendalami Islam. “Kita kadang mengadakan pengajian di luar asrama dengan mengundang penceramah luar,” kata Adit dalam wawancaranya dengan Suara Islam.

Sebetulnya Adit sudah diminta wawancara Suara Islam dua tahun lalu, Adit tidak bersedia. Sekarang di Pilpres ini, Adit mau tampil untuk menyampaikan kenapa memilih PRABOWO untuk menjadi presiden.

Sebelum masuk taruna di Magelang, Adit sempat menghadap Buya Mohammad Natsir, tokoh Islam nasional yang sangat disegani saat itu. Ia diberi Pak Natsir selebnar surat untuk dibawa ke tokoh PP (Pelajar Islam Indonesia) dan Masyumi Magelang, Bapak Cholil Badawi. Di rumah Pak Cholil lah, Adit, Kivlan, Bambang Sukoco, Saiful Islam, Anwar Sudarminto dan lain-lain sering mengadakan diskusi-diskusi tentang masalah keislaman.

Adit, mantan Kepala Dinas Penerangan Umum Puspen ABRI (1995) ini memang hobi dengan kegiatan-kegiatan Islam. Ia berkisah tentang masa lalunya:
BACA SELENGKAPNYA “Prabowo Dulu Aktif Membantu ABRI Hijau – 1″

Prabowo Sadarkan Pak Harto dari Tipu Daya Moerdani

“Moerdani Bikin ORBA Beringas, Prabowo Sadarkan Pak Harto”

Prabowo dulu dan kiniApa itu Orde Baru? Binatang apakah dia?

Orde Baru adalah nama atau sebutan untuk satu masa pemerintahan atau rezim presiden Suharto mulai 1966-1998. Era Orde Baru itu untuk membedakan dengan Orde Lama 1949 1965 dan jaman Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Orde Baru dibagi tiga periode gaya kepemimpinan Suharto:
- 1966-1976 (masa konsolidasi)
- 1977-1990 (masa represif),
- 1990-1998 (masa kebangkitan Islam)

Pada tahun 1966-1990 atau selama 24 tahun Suharto menggunakan kekuatan ABRI-Birokrasi-Golkar untuk berkuasa dan menyingkirkan kekuatan Islam. Selama 24 tahun (1966-1990) umat Islam disingkirkan dan secara bertahap menjadi warga negara kelas 2 (dua) di Indonesia meski mayoritas.

Sebaliknya, secara bertahap kelompok Katolik, Kejawen (agama Jawa) dan Tionghoa (cina Indonesia) menjadi warga negara kelas I, atau warga utama. Selama 24 tahun, hampir semua sumber daya negara dikuasai oleh kelompok Katolik, Kejawen dan Cina. Pak Harto anak emaskan tiga kelompok minoritas ini.

Pada tahap kedua ORBA (1977-1990), mayoritas Islam di Indonesia dijadikan “musuh negara”. ABRI-Birokrasi-Golkar dijadikan senjata.

Mayoritas jabatan/posisi strategis di ABRI dan Birokrasi dikuasai Kejawen & Katolik. CSIS sebagai otak/think-tank nya dalam menyingkirkan Islam. Mayoritas sumber daya ekonomi diserahkan kepada etnis Cina, Katolik dan Kejawen. Mereka mendapat hak-hak istimewa dari regim Suharto.

Untuk mencegah kelompok Cina yang sudah diberi hak istimewa di sektor ekonomi, ingin jadi penguasa di sektor politik, Suharto terapkan rambu-rambu. Suharto berikan Tionghoa konsesi luar biasa di sektor ekonomi tetapi batasi hak-hak politik mereka untuk menjadi penguasa sektor politik.

Tionghoa dibatasi peran mereka di sektor politik, ABRI dan birokrasi. Sekaligus untuk mengawasi Tionghoa yang sekitar 3 (tiga) persen jumlahnya. Kaum Tionghoa, pada masa Orde Lama merupakan salah satu pendukung utama PKI/komunis, berkiblat ke RRC, salah satu poros Komunis.

Mayoritas kelompok Cina Indonesia, sejak masa penjajahan, zaman revolusi dan masa orde lama, adalah kolaborator penjajah dan sekutu PKI. Pemerintahan Suharto pada masa konsolidasi (1966-1977) menyaring kelompok Cina jenis ini (PKI). Sebagian dari mereka kabur ke luar negeri. Sementara kelompok Cina yang sudah menunjukan kesetiaan pada rezim suharto, diberi konsesi ekonomi luar biasa. Mereka tumbuh jadi konglomerat RI.

Namun, Suharto kena batunya ketika konglomerat-konglomerat Cina Indonesia ini mengkhianati Suharto, tidak mau dukung program revitalisasi UKM-Koperasi.

Mayoritas konglomerat Cina yang tergabung dalam Yayasan Prasetya Mulya pimpinan Liem Sioe Liong dan Sofyan Wanandi khianati Suharto.

Setelah disuapi, diberi konsesi ekonomi (hak distribusi, produksi, monopoli, impor, HPH, lahan, perizinan, perbankan dan lain-lain), Cina khianat. Konglomerat Cina tidak bersedia penuhi permintaan Suharto untuk menyisihkan 1-2,5 persen laba mereka untuk pengembangan koperasi/UKM pribumi.

Di Tapos, secara blak-blakan, semua konglomerat Cina ini menolak sumbang 1-2,5% laba bersih mereka untuk bangun ekonomi pribumi. Suharto SHOCK. Suharto baru tersadar dia telah besarkan anak macan, persis kayak Prabowo atau Megawati besarkan Jokowi, anak macan yang berkhianat.

Suharto tersadar, tapi sudah terlambat. Dia salah memilih kelompok Tionghoa sebagai sekutu di bidang ekomomi. Suharto coba koreksi kebijakannya.

Setelah dikhianati Tionghoa, Soeharto mulai beri konsesi pada kelompok pribumi, dibentuk Menteri Muda UPPDN, ditunjuk Ginanjar Kartasasmita. Ginanjar Kartasasmita mulai membangun jaringan pengusaha pribumi Indonesia dengan alumni ITB dan HIPMI sebagai basis utamanya. Ginanjar pun mulai membangun jaringan pengusaha pribumi Indonesia dengan alumni ITB dan HIPMI sebagai basis utamanya.

Tapi, konglomerat Cina melawan. Mereka bangun jaringan bisnis dan tanamkan investasi besar-besaran ke luar negeri, dengan basisnya di: RRC, Taiwan dan Singapura.

Prabowo dipanggul kopassusDi bidang politik, kelompok Katolik dan Kejawen yang sebelumnya diberi konsesi besar di ABRI, Birokrasi dan bisnis, juga khianati Suharto. LB Moerdani, tokoh Katolik di ABRI diam-diam terapkan operasi penghancuran Islam, sekaligus menjerumuskan dan menjebak Suharto agar perangi Islam.

Moerdani singkirkan perwira-perwira ABRI yang Islam, diganti dengan Katolik, Kristen dan Kejawen. Didoktrin agar anti Islam, perangi Islam.

Tidak cukup dengan perangi dan bantai umat Islam (Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari Lampung dan seterusnya), Moerdani juga merekayasa teroris Islam (pembajakan Woyla). Puncaknya, Moerdani paksa semua ormas Islam mengganti azas mereka menjadi azas tunggal Pancasila. Azas Islam haram. Ilegal. Dianggap melanggar hukum.

Moerdani berharap jika umat Islam ditekan habis-habisan, dibantai, diperangi, umat Islam akan marah dan jadikan Suharto sebagai musuh Islam. Suharto sempat terjebak dan hampir jadi korban adu domba dan strategi keji Moerdani, namun Allah Maha Besar, Dia intervensi.

Allah intervensi dengan caranya yang “misterius”.

Moerdani ingin adu domba Suharto dan Islam. Dia tanam staf khususnya di Cendana, ke jantung kekuasaan Suharto. Seorang perwira muda, brilian, jenius, prestasi militer hebat, berpangkat kapten, staf khusus LB Moerdani (Menhankam/Pangab), bernama: Prabowo!

Kapten Prabowo, staf khusus Moerdani, yang sudah bertunangan, dijodohkan Moerdani dengan Titiek, putri Suharto. Mereka lalu menikah. Setelah berpacaran sebentar, Kapten Prabowo dan Titiek Suharto menikah. Moerdani loncat-loncat kegirangan, berhasil tanam Prabowo di Cendana

Tapi, perkawinan Prabowo dan Titiek Suharto ternyata menjadi titik awal “Intervensi Allah”. Subhanallah, Allahu Akbar!

Moerdani tidak menyangka sama sekali, seluruh rencananya: menghancurkan Islam dan Suharto, musnah gara-gara Prabowo. Intervensi Allah, tanpa diduga Moerdani, turun melalui Prabowo.

Prabowo yang sebelum dan setelah jadi menantu Suharto, karena jabatannya sebagai staf khusus Menhankam/Pangab LB Moerdani, tahu banyak operasi Moerdani. Prabowo mengetahui hampir semua rencana LB Moerdani menghancurkan Islam dan adu domba Islam dengan Suharto, mertuanya.

Rencana besar Moerdani (LBM) adalah, Suharto akan jadikan dia wakil presiden pada 1988 dan kemudian dia akan jadi presiden pada 1993. Jika Moerdani berkuasa sebagai Presiden, umat Islam Indonesia akan jadi umat jajahan kembali, dijajah Londo ireng (hitam) bernama Moerdani.

Tetapi Allah Maha Besar, siapa sangka Kapten Prabowo, seorang sebenarnya masuk kategori Muslim abangan, bahkan keluarganya banyak yang non-muslim, justru menjadi pahlawan umat Islam RI?

Kapten Prabowo, melihat bencana besar terhadap Islam dan Indonesia jika Benny Moerdani berhasil menjalankan strateginya. Prabowo mulai melakukan perlawanan, melaporkan rencana dan operasi LBM kepada Suharto, mendekati umat Islam, galang ABRI Islam lawan LBM.

Yang paling fenomenal adalah keberhasilan Prabowo menyadarkan Ibu Tien Suharto dan Pak Harto untuk jadi mualaf (dari Kejawen, agama Jawa), masuk Islam pada 1989. Kemudian dilanjutkan dengan keberangkatan Pak Harto, Bu Tien dan keluarga Cendana ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji pada 1991.

Sejak Pak Harto dan Ibu Tien masuk Islam, Politik Indonesia berubah. Tahap ketiga Orba dimulai: Kemerdekaan Islam Indonesia (1990-1998). Kemerdekaan Islam Indonesia dipelopori seorang anak manusia dari keluarga Islam abangan cendikiawan: Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Pak Harto, Ibu Tien, Cendana masuk Islam, naik haji. Tobat nasuha. Islam mulai diperlakukan adil dan proporsional, setelah 24 tahun dizalimi. Tokoh-tokoh Islam dikader, diberi kesempatan untuk karier politik dan militer. NU, Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam tidak lagi dicurigai sebagai musuh.

Kader-kader muda Islam dibina Suharto dan Prabowo: Din Syamsuddin, Jimly Assiddiqie, Idrus Marham, Hadjrianto Tohari, Agil Siradj, Yusril Ihza, dan seterusnya.

ICMI Berdiri, BMI didirikan, Harian Republika terbit, Dompet Dhuafa berkibar, jenderal-jenderal Islam dapat tempat, ekonomi dan politik Islam berperan.

Kabinet Suharto pun mulai menerima tokoh-tokoh Islam jadi menteri strategis. Sebelumnya, tidak ada tokoh Islam jadi menteri strategis. Semua dikuasai kelompok Kejawen dan Katolik. Selama 24 tahun, Islam jadi kusta.

Ketika tahun lalu bertemu Prabowo, kami sampaikan ke beliau: “Apakah Bapak sadar yang telah Bapak lakukan utk Islam Indonesia?”

Prabowo menjawab: “Sangat sadar! Tetapi kenapa sebagian tokoh Islam malah membenci saya?”

Kami jawab: “Tokoh Islam yang benci sama Bapak, hanya segelintir, sebab mereka tidak tahu sejarah. Mereka diperdaya fitnah dan opini sesat. Media, LSM, aktivis dan agen-agen konspirasi global yang jadi corong fitnah dan opini sesat, meracuni jiwa pikiran mereka. Mereka tdk sadar.”

“Mereka tidak sadar bahwa Pak Prabowo adalah tokoh yang ‘memerdekakan dan memberdayakan’ Islam dan pribumi di Indonesia. Selama Pak Prabowo tidak meninggalkan Islam dan Pribumi Indonesia, insya Allah, kami dan seluruh rakyat RI berada di belakang Bapak! Sekarang, Pak Prabowo telah buat kesalahan fatal, membesarkan anak macan bernama Jokowi yang didukung PKI dan musuh-musuh Islam.” Beliau kaget.

“Para pendukung Jokowi inilah yang menjadi otak krisis ekonomi, Korupsi BLBI, otak kerusuhan Mei 98, dan lainnya. Bapak difitnah, ditipu, diperdaya mereka. Sekarang mereka bangkit melalui Jokowi. Tugas dan tanggung jawab Bapak untuk mengatasinya,” tegas kami ke Prabowo.

Kembali ke Orde Baru 1990-1998, adalah era kemerdekaan dan kebangkitan Islam Indonesia setelah terjajah 24 tahun dan kini mau dijajah lagi oleh asing-aseng-antek melalui Jokowi. Bahkan menfasilitasi komunis PKI bangkit untuk kuasai Indonesia. Hanya ada satu kata: LAWAN!

Sebab Indonesia ini adalah milik kita! Bukan milik asing-aseng-antek. Mereka adalah musuh kita. Dengan bersatu kita kalahkan mereka!

Segelintir elit Katolik dan Kristen mendukung Jokowi? Silahkan. Komunis PKI dan elit Cina korup dukung Jokowi? Silahkan! Kita LAWAN!

Sebab, Republik Indonesia ini MILIK KITA, bukan milik ‘kita palsu’ ala orang-orang jokowi! Dengan bersatu mereka kita kalahkan dan kita musnahkan!

Sebab, Komunis tidak ada tempat di Indonesia yang agamis dan Pancasilais. Komunis tidak ada tempat di hati dan pikiran para Nasionalis.

Siapkah rakyat bersatu dengan TNI basmi komunis/PKI (lagi)? Siap? Mari kita sikat semua! Bismillah… Allahu Akbar!

MERDEKA !!

SILAKAN BACA JUGA:
Gerindra dan PKS Tandatangani Piagam Koalisi
Ulama Banten Siap Menangkan Prabowo-Hatta