Demagogi

Demagogi

Oleh : Rocky Gerung

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

***

BACA SELENGKAPNYA “Demagogi”

Jokowi dan Politik Belah Bambu

La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?

Oleh : Hersubeno Arief

Pola yang dimainkan kubu Jokowi sangat mudah terbaca. Sasaran utamanya adalah figur yang mempunyai latar belakang Islam, atau punya basis ketokohan yang kuat. Kecuali Kapitra dan Nyalla kasusnya berbeda.

Bila kita cermati strategi politik Jokowi dalam menghadapi lawan, ada satu benang merah yang konsisten. Akuisisi lawan politik, setelah itu gunakan mereka untuk serangan balik. Biarkan kubu musuh bertengkar sendiri. Ketika mereka sudah lemah, tinggal ditundukkan.

Dalam batas-batas tertentu Jokowi sudah berhasil menerapkan prinsip maha guru strategi perang Sun Tzu. “Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar. Bikin mereka bertengkar sendiri. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka, kau akan menguasai nasib lawanmu.”

Sayangnya tidak semua prinsip itu berhasil diterapkan dengan baik. Kelemahan identifikasi, kesalahan pemilihan figur yang akan dijadikan proxy, serta lemahnya leadership Jokowi, membuat semuanya menjadi berantakan. Semua senjata yang digunakan Jokowi tumpul, dan malah berbalik menyerang. Senjata rekrutan terbaru yang kini tengah digunakan adalah La Nyalla Matalitti.

Mari kita inventarisir siapa saja lawan politik yang berhasil direkrut Jokowi?

BACA SELENGKAPNYA “Jokowi dan Politik Belah Bambu”

Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat

Menyiram Bensin di atas Kobaran Api Kemarahan Umat

Oleh: Nasrudin Joha

Tengku Zulkarnain
Tengku Zulkarnain

Sah! Ust. Tengku Zulkarnaen (UTZ) dilaporkan Jokower kafir. Soal yang menjadi sebab sepele : ciutan mempertanyakan 7 kontainer surat suara. Seolah mendapat air ditengah Padang gersang dahaga Jokower, peluang ini tidak disia-siakan Jokower membawanya ke penenggak hukum.

Barisan kubu Jokower merasa digdaya diatas moral kejujuran, mendapat angin segar ketika ada peluang ‘menuduh’ lawan politik -apalagi dari kalangan ulama- menebar hoax. Beritanya juga diulang-ulang, seolah aib ini lah pangkal dari seluruh persoalan bangsa.

Barisan hoax Jokowi, yang menu sarapan hingga makan pagi siang sore malam hoax hoax hoax, bahkan membuat hoax yang dirancang dari istana didukung seluruh infrastruktur negara, merasa diatas angin. Menggoreng isu ‘tudingan hoax’ atas UTZ.
BACA SELENGKAPNYA “Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat”

Jokowi Takut Sampaikan Visi Misi

Terasa Diadili Rakyat, Jokowi Takut Sampaikan Visi-Misi

Oleh: M. Juhriyanto

Gerakan salam dua jari ketika Jokowi berkunjung ke berbagai daerah yang viral di media sosial, ternyata menggetarkan hati Jokowi. Capres petahana ini takut menghadapi Prabowo sebagai wakil rakyat yang hendak mengadili visi misi petahana pada Pilpres 2014 yang dirasakan GAGAL TOTAL oleh rakyat. Sehingga, terasa oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf maupun Jokowi sendiri, sangat menakutkan untuk menyampaikan visi misi secara langsung.

Nuansa pengadilan rakyat ini sangat terasa bagi Jokowi ketika di mana-mana yang muncul di hadapan mukanya adalah salam dua jari, mendukung capres-cawapres 02 Prabowo – Sandi. Entah dari mana gerakan mempermalukan Jokowi ini menyeruak. Penulis memperhatikan di Medsos, terjadinya salam dua jari dimulai dari acara-acara “sulapan” deklarasi pendukung Jokowi-Ma’ruf (Joma), tampak anak muda milineal nge-vlog dengan salam dua jari berkaos Joma. Kemudian, 8 Okt 2018, Paspampres yang langsung beraksi ketika lihat mahasiswa di Medan mengacungkan dua jari ketika selfie dengan Jokowi. Paspampres pengaman dua jari, ini pun viral di Medsos.

Gerakan mempermalukan (kalau punya rasa malu) ini berlanjut ke Yogyakarta, sekelompok pelajar mengacungkan dua jari rama-ramai saat Jokowi berswafoto dengan mereka. Gerakan bergulir ke Madura, yang viral dengan video “Jokowi Mole” (Jokowi Pulang) yang lengkap dengan acungan dua jari. Terus saat jelang tutup tahun sekumpulan emak-emak di Istana Bogor mengacungkan dua jari di tengah-tengahnya ada Jokowi, foto dan videonya juga viral. Terakhir, di Ponorogo, Jokowi menghadapi situasi yang memalukan, secara jelas rakyat sudah tidak lagi menghendakinya memimpin negeri ini.
BACA SELENGKAPNYA “Jokowi Takut Sampaikan Visi Misi”

Lonceng Kematian Rezim Jokowi

Gaung Lonceng Kematian Rezim

Oleh: Nasrudin Joha

Cover Tenpo, Jokowi dan Faktor Ma'ruf

Kegalauan rezim makin tak terbendung, beberapa manuver blunder dan statement tidak penting justru membawa rezim pada posisi yang makin sulit.

Majalah Tempo edisi terkini ikut mem-bully rezim, setelah sebelumnya loyal berkhidmat melafazkan mantra ‘Jokowi dua periode’. Tempo sekarang ternyata tak ridha jika harus mempertaruhkan kredebilitas di mata publik.

Oplah tempo langsung melejit, karena publik memang rindu berita yang nyata. Bagi publik, kenyataan kejatuhan Jokowi tidak bisa diganggu gugat, Ini merupakan keputusan yang final dan binding. Tidak ada banding, tidak ada kasasi.

Jokowi boleh berganti, tapi bisnis tak boleh sepi, apalagi mati. Hanya Denny JA yang rela menukar kredebilitas dan masa depan dunia persurveyan demi Jokowi. Bahkan, terakhir telah nimbrung membuat Akademi Meme Indonesia, untuk mengidolakan Jokowi.
BACA SELENGKAPNYA “Lonceng Kematian Rezim Jokowi”

Makna Reuni 212

Apa Makna Reuni 212?

Oleh: Achmad Jainuri, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Reuni 212 menjawab semua ketidakadilan yang ditujukan kepada umat Muslim.

Dua artikel yang secara berturut-turut pernah dimuat di the New Yorker pada Mei dan Juni, 1988, menarik untuk dibuka kembali, terkait bagaimana memahami potensi Islam dan umat Muslim di Indonesia.

Menurut media bulanan ini, dua kekuatan politik yang sangat berpengaruh di Indonesia era 1980-an hanya ada dua, semuanya berbaju ‘hijau’. Hijau yang pertama adalah ABRI, sedangkan hijau kedua adalah umat Muslim.

Dua kelompok itulah sesungguhnya yang disebut the real political power di Indonesia, jika keduanya berada dalam sistem kekuasaan. Karena rezim yang berkuasa saat itu adalah hijau yang pertama, maka disarankan untuk ‘berbaik’ dengannya.

Sedangkan ‘hijau’ yang kedua terabaikan karena tidak berada dalam struktur kekuasaan. Hingga kini, Islam dan Muslim seakan menjadi kekuatan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja bagi yang menginginkan keuntungan politik darinya.
BACA SELENGKAPNYA “Makna Reuni 212″

Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Oleh: Hersubeno Arief - pemerhati ruang publik

hersubeno-ariefTANDA-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku,  framing dan black out.
Berita Terkait

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita,   bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta.

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (4/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati  koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita  jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.
BACA SELENGKAPNYA “Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri”