Jokowi dan Politik Belah Bambu

La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?

Oleh : Hersubeno Arief

Pola yang dimainkan kubu Jokowi sangat mudah terbaca. Sasaran utamanya adalah figur yang mempunyai latar belakang Islam, atau punya basis ketokohan yang kuat. Kecuali Kapitra dan Nyalla kasusnya berbeda.

Bila kita cermati strategi politik Jokowi dalam menghadapi lawan, ada satu benang merah yang konsisten. Akuisisi lawan politik, setelah itu gunakan mereka untuk serangan balik. Biarkan kubu musuh bertengkar sendiri. Ketika mereka sudah lemah, tinggal ditundukkan.

Dalam batas-batas tertentu Jokowi sudah berhasil menerapkan prinsip maha guru strategi perang Sun Tzu. “Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar. Bikin mereka bertengkar sendiri. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka, kau akan menguasai nasib lawanmu.”

Sayangnya tidak semua prinsip itu berhasil diterapkan dengan baik. Kelemahan identifikasi, kesalahan pemilihan figur yang akan dijadikan proxy, serta lemahnya leadership Jokowi, membuat semuanya menjadi berantakan. Semua senjata yang digunakan Jokowi tumpul, dan malah berbalik menyerang. Senjata rekrutan terbaru yang kini tengah digunakan adalah La Nyalla Matalitti.

Mari kita inventarisir siapa saja lawan politik yang berhasil direkrut Jokowi?

BACA SELENGKAPNYA “Jokowi dan Politik Belah Bambu”

Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat

Menyiram Bensin di atas Kobaran Api Kemarahan Umat

Oleh: Nasrudin Joha

Tengku Zulkarnain
Tengku Zulkarnain

Sah! Ust. Tengku Zulkarnaen (UTZ) dilaporkan Jokower kafir. Soal yang menjadi sebab sepele : ciutan mempertanyakan 7 kontainer surat suara. Seolah mendapat air ditengah Padang gersang dahaga Jokower, peluang ini tidak disia-siakan Jokower membawanya ke penenggak hukum.

Barisan kubu Jokower merasa digdaya diatas moral kejujuran, mendapat angin segar ketika ada peluang ‘menuduh’ lawan politik -apalagi dari kalangan ulama- menebar hoax. Beritanya juga diulang-ulang, seolah aib ini lah pangkal dari seluruh persoalan bangsa.

Barisan hoax Jokowi, yang menu sarapan hingga makan pagi siang sore malam hoax hoax hoax, bahkan membuat hoax yang dirancang dari istana didukung seluruh infrastruktur negara, merasa diatas angin. Menggoreng isu ‘tudingan hoax’ atas UTZ.
BACA SELENGKAPNYA “Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat”

Jokowi Takut Sampaikan Visi Misi

Terasa Diadili Rakyat, Jokowi Takut Sampaikan Visi-Misi

Oleh: M. Juhriyanto

Gerakan salam dua jari ketika Jokowi berkunjung ke berbagai daerah yang viral di media sosial, ternyata menggetarkan hati Jokowi. Capres petahana ini takut menghadapi Prabowo sebagai wakil rakyat yang hendak mengadili visi misi petahana pada Pilpres 2014 yang dirasakan GAGAL TOTAL oleh rakyat. Sehingga, terasa oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf maupun Jokowi sendiri, sangat menakutkan untuk menyampaikan visi misi secara langsung.

Nuansa pengadilan rakyat ini sangat terasa bagi Jokowi ketika di mana-mana yang muncul di hadapan mukanya adalah salam dua jari, mendukung capres-cawapres 02 Prabowo – Sandi. Entah dari mana gerakan mempermalukan Jokowi ini menyeruak. Penulis memperhatikan di Medsos, terjadinya salam dua jari dimulai dari acara-acara “sulapan” deklarasi pendukung Jokowi-Ma’ruf (Joma), tampak anak muda milineal nge-vlog dengan salam dua jari berkaos Joma. Kemudian, 8 Okt 2018, Paspampres yang langsung beraksi ketika lihat mahasiswa di Medan mengacungkan dua jari ketika selfie dengan Jokowi. Paspampres pengaman dua jari, ini pun viral di Medsos.

Gerakan mempermalukan (kalau punya rasa malu) ini berlanjut ke Yogyakarta, sekelompok pelajar mengacungkan dua jari rama-ramai saat Jokowi berswafoto dengan mereka. Gerakan bergulir ke Madura, yang viral dengan video “Jokowi Mole” (Jokowi Pulang) yang lengkap dengan acungan dua jari. Terus saat jelang tutup tahun sekumpulan emak-emak di Istana Bogor mengacungkan dua jari di tengah-tengahnya ada Jokowi, foto dan videonya juga viral. Terakhir, di Ponorogo, Jokowi menghadapi situasi yang memalukan, secara jelas rakyat sudah tidak lagi menghendakinya memimpin negeri ini.
BACA SELENGKAPNYA “Jokowi Takut Sampaikan Visi Misi”

Makna Reuni 212

Apa Makna Reuni 212?

Oleh: Achmad Jainuri, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Reuni 212 menjawab semua ketidakadilan yang ditujukan kepada umat Muslim.

Dua artikel yang secara berturut-turut pernah dimuat di the New Yorker pada Mei dan Juni, 1988, menarik untuk dibuka kembali, terkait bagaimana memahami potensi Islam dan umat Muslim di Indonesia.

Menurut media bulanan ini, dua kekuatan politik yang sangat berpengaruh di Indonesia era 1980-an hanya ada dua, semuanya berbaju ‘hijau’. Hijau yang pertama adalah ABRI, sedangkan hijau kedua adalah umat Muslim.

Dua kelompok itulah sesungguhnya yang disebut the real political power di Indonesia, jika keduanya berada dalam sistem kekuasaan. Karena rezim yang berkuasa saat itu adalah hijau yang pertama, maka disarankan untuk ‘berbaik’ dengannya.

Sedangkan ‘hijau’ yang kedua terabaikan karena tidak berada dalam struktur kekuasaan. Hingga kini, Islam dan Muslim seakan menjadi kekuatan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja bagi yang menginginkan keuntungan politik darinya.
BACA SELENGKAPNYA “Makna Reuni 212″

Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Oleh: Hersubeno Arief - pemerhati ruang publik

hersubeno-ariefTANDA-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku,  framing dan black out.
Berita Terkait

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita,   bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta.

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (4/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati  koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita  jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.
BACA SELENGKAPNYA “Berita Reuni 212, Pers Indonesia Bunuh Diri”

Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa

Islam, Radikalisme, dan Masa Depan Bangsa

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Syahganda Nainggolan1Islam, jihad, kekerasan, ekstremisme, radikalisme, militanisme  dan bahkan terorisme telah menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan elit dan juga sebagian masyarakat umum belakangan ini, khususnya paska “bom Surabaya” beberapa  waktu lalu.

Islam sebagai sebuah ajaran bergeser dari keberadaannya tentang peradaban manusia menjadi seolah-olah ajaran sesat dan menakutkan. Jihad sebagai ayat dalam kitab suci Al-Quran untuk menegakkan Islam sebagai ajaran kasih sayang dan perdamaian, telah menjadi musuh.

Sekjen Syuriah NU, Yahya Staquf, yang diundang Wakil Presiden Amerika, Mike Pence di Gedung Putih, didampingi Johnnie Moore, penasihat Trump dari Kristen Evangelical, menjelaskan tentang komitmen NU memerangi Jihad dan ekstremisme. Hal ini dirilis Wakil Presiden Amerika di tweeter nya. Namun ada tweeter lain yang menimpali: “@POTUS Trump’s admin stands with NU in its fight for religious freedom & against jihad”.

Pence atau administrasi rezim Trump menyatakan memerangi Jihad. Seolah Jihad itu adalah sebuah kejahatan. Dan jika NU tidak membantah itu sebuah kesimpulan atau hasil pikiran bersama dengan Mike Pence, maka NU juga bisa dipersepsikan bersikap memerangi Jihad. Apalagi Staquf baru dilantik menjadi penasihat Jokowi.
BACA SELENGKAPNYA “Islam, Radikal, dan Masa Depan Bangsa”

Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita

Abad Kegelapan Akademisi dan Perguruan Tinggi Kita

Oleh: Hersubeno Arief

Sejak kapan seorang Menristek Dikti menjadi seorang Panglima Kopkamtib yang berwenang membatasi kebabasan akademis? Sejak kapan di negara demokrasi kebebasan berpikir dan berpendapat dibatasi?

Dunia akademis dan perguruan tinggi kita sedang memasuki abad kegelapan. Persekusi dan stigma radikal yang disematkan oleh BNPT dan Menristek Dikti mengingatkan kita pada masa-masa inkuisisi di Spanyol (1.478-1.834), di Italia (1.208-1.834).

Inkuisisi (Roman Catholic Tribunal) adalah sebuah pengadilan yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma untuk memberantas praktik-praktik agama yang dinilai sebagai bid’ah. Tidak boleh ada pemikiran yang berbeda apalagi bertentangan dengan doktrin dan keyakinan gereja. Para pemimpin gereja adalah pemilik monopoli kebenaran.

Tujuan inkuisisi adalah quoniam punitio non refertur primo & per se in correctionem & bonum eius qui punitur, sed in bonum publicum ut alij terreantur, & a malis committendis avocentur. Hukuman bukan dijatuhkan terutama dan per se demi perbaikan dan kebaikan si terhukum, melainkan demi kebaikan masyarakat agar orang-orang lain menjadi takut dan menjauhkan diri dari kejahatan-kejahatan yang hendak mereka lakukan. Jadi targetnya adalah efek jera massal di masyarakat.
BACA SELENGKAPNYA “Abad Kegelapan Akademisi dan PT Kita”