Perang Kotor Jokowi

Perang Kotor Jokowi

Oleh: Hersubeno Arief

Dengan pengakuan Andi Wijayanto jelas sudah,  serangan Jokowi secara pribadi kepada Prabowo sudah direncanakan secara matang. Jokowi dengan kekuasaan di tangannya bisa leluasa mengakses semua informasi yang dimiliki pemerintah. Kemudian digunakan untuk melumpuhkan lawan politiknya.

Prabowo menyapa

Mudah-mudahan saja berita yang diturunkan laman tempo.co edisi Kamis (7/3) itu salah. Judulnya “Ketua Cakra 19: Jokowi Berpesan Gaspol Terus Soal Lahan Prabowo.”

Seandainya benar, sikap Jokowi ini sangat tidak etis.  Berpotensi melanggar praktik pemerintahan yang baik dan benar. 
BACA SELENGKAPNYA “Perang Kotor Jokowi”

Air Mata Kiai NU di Halaqah Komite Khittah

Air Mata Para Kiai NU Tumpah di Halaqah Komite Khittah 1926

Halaqah ke-6 Komite Khittah 1926 di PP Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3/2019)
Halaqah ke-6 Komite Khittah 1926 di PP Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3/2019)

Prof Dr Ahmad Zahro, moderator halaqah ke-6 Komite Khitthah (KK) 26 NU yang berlangsung di PP Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3/2019), menyebut ini adalah halaqah paling ‘hidup’.

Bukan karena dihadiri banyak kiai, habaib dan akademisi dari berbagai daerah (seperti Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, dll), tetapi halaqah ke-6 kali ini berhasil menginventarisasi masalah yang melilit NU secara komplet.

“Ini halaqah paling ‘hidup’. Kita tinggal merumuskan bagaimana cara menyelamatkan NU secepatnya dari tangan para politisi maupun kaum liberal yang merusak NU dari dalam. Silakan hadir dalam pertemuan tertutup Kamis 14 Maret, di PP Tebuireng. Kita bisa bicara sak katoke (sepuas-puasnya red.),” demikian Prof Dr Ahmad Zahro.
BACA SELENGKAPNYA “Air Mata Kiai NU di Halaqah Komite Khittah”

Anies Lindungi Rakyat Kecil dari Mafia

Lindungi Rakyat Kecil, Anies Siap Hadapi Mafia

Oleh: Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Anies BaswedanSantun, dan selalu menjaga intonasi kelembutan suara serta ketepatan bahasa. Itulah Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta. Tapi, jika sudah sampai pada urusan rakyat, jangan coba main-main dengannya.

Kasus swastanisasi air minum misalnya. Sejak tahun 1997, urusan air di Jakarta diserahkan kepada swasta. Ada dua perusahaan; Aitra dan Palyja. Dua perusahaan yang saham mayoritasnya saat ini dikuasai oleh Salim group.

Di awal kontrak, persediaan air di Jakarta cukup untuk 44,5% penduduk. Tahun 2023, saat kontrak berakhir, targetnya 82%. Tapi, di tahun 2019 ini, setelah lebih dari 20 tahun kontrak, dua perusahaan ini hanya bisa menyediakan 59,4%. Hanya naik14,9%. Jadi, tersisa empat tahun kedepan target tak mungkin akan tercapai. Alias gagal! Mau diperpanjang 25 tahun lagi kedepan? Anies tegur Dirut PT PDAM. Gak sejalan, terpaksa Anies menggantinya, setelah diberi kesempatan selama tiga bulan.

Disamping itu, harga airnya begitu mahal. Modal cuma 680/meter kubik, dijual 7.500/meter kubik. Untung 1000% lebih. Target gak terpenuhi, 22% bagi untung terus didapat, fasilitas infrastruktur pakai punya PT. PAM JAYA DKI. Menang banyak!
BACA SELENGKAPNYA “Anies Lindungi Rakyat Kecil dari Mafia”

Kenapa Kita Pilih Prabowo

Kenapa Kita Pilih Prabowo?

Prabowo kampanye di Sumut

Rasanya tidak tepat kalau cuma memilih tapi tidak punya ALASAN Berikut 30 Alasan kenapa saya pilih H.Prabowo Subianto Djohadikusumo

1. Prabowo Tegas dalam bertindak dan bisa melihat masalah negara sebelum yg lain melihatnya.

2. Prabowo Bukan Capres Boneka dan pro asing,beliau adalah patriot dan negarawan sejati.

3. Prabowo Bukan Petugas Partai, Tapi Seorang Leader.

4. Prabowo Cerdas (IQnya 152, Mendekati Einstein/Habibie)

5. Prabowo Setia, Tak Pernah Langgar Perjanjian Batutulis.
BACA SELENGKAPNYA “Kenapa Kita Pilih Prabowo”

Demagogi

Demagogi

Oleh : Rocky Gerung

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

***

BACA SELENGKAPNYA “Demagogi”

Jokowi dan Politik Belah Bambu

La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?

Oleh : Hersubeno Arief

Pola yang dimainkan kubu Jokowi sangat mudah terbaca. Sasaran utamanya adalah figur yang mempunyai latar belakang Islam, atau punya basis ketokohan yang kuat. Kecuali Kapitra dan Nyalla kasusnya berbeda.

Bila kita cermati strategi politik Jokowi dalam menghadapi lawan, ada satu benang merah yang konsisten. Akuisisi lawan politik, setelah itu gunakan mereka untuk serangan balik. Biarkan kubu musuh bertengkar sendiri. Ketika mereka sudah lemah, tinggal ditundukkan.

Dalam batas-batas tertentu Jokowi sudah berhasil menerapkan prinsip maha guru strategi perang Sun Tzu. “Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar. Bikin mereka bertengkar sendiri. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka, kau akan menguasai nasib lawanmu.”

Sayangnya tidak semua prinsip itu berhasil diterapkan dengan baik. Kelemahan identifikasi, kesalahan pemilihan figur yang akan dijadikan proxy, serta lemahnya leadership Jokowi, membuat semuanya menjadi berantakan. Semua senjata yang digunakan Jokowi tumpul, dan malah berbalik menyerang. Senjata rekrutan terbaru yang kini tengah digunakan adalah La Nyalla Matalitti.

Mari kita inventarisir siapa saja lawan politik yang berhasil direkrut Jokowi?

BACA SELENGKAPNYA “Jokowi dan Politik Belah Bambu”

Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat

Menyiram Bensin di atas Kobaran Api Kemarahan Umat

Oleh: Nasrudin Joha

Tengku Zulkarnain
Tengku Zulkarnain

Sah! Ust. Tengku Zulkarnaen (UTZ) dilaporkan Jokower kafir. Soal yang menjadi sebab sepele : ciutan mempertanyakan 7 kontainer surat suara. Seolah mendapat air ditengah Padang gersang dahaga Jokower, peluang ini tidak disia-siakan Jokower membawanya ke penenggak hukum.

Barisan kubu Jokower merasa digdaya diatas moral kejujuran, mendapat angin segar ketika ada peluang ‘menuduh’ lawan politik -apalagi dari kalangan ulama- menebar hoax. Beritanya juga diulang-ulang, seolah aib ini lah pangkal dari seluruh persoalan bangsa.

Barisan hoax Jokowi, yang menu sarapan hingga makan pagi siang sore malam hoax hoax hoax, bahkan membuat hoax yang dirancang dari istana didukung seluruh infrastruktur negara, merasa diatas angin. Menggoreng isu ‘tudingan hoax’ atas UTZ.
BACA SELENGKAPNYA “Menyiram Bensin ke Api Amarah Umat”